clock

About me

Foto saya
saya terlahir di salah satu kota kecil di jawa timur, pada saat ini saya sedang menempuh gelar sarjana saya di salah satu universitas swasta terbesar di kota malang

My TV

welcome to my site...

get some important file in here

Minggu, 13 Maret 2011

Six Sigma VS Total Qualty Management

KONSEP SIX SIGMA VERSUS TOTAL QUALITY

Six sigma merupakan konsep yang reletif baru dibanding dengan Total Quality Manajemen. namun ketika itu dikonseptualisasikan, itu tidak dimaksud untuk menjadi pengganti TQM. Baik six sigma dan TQM memiliki potensi memberikan hasil lebih tajam.
Menutut Peter Pande adaenam komponen utama konsep six sigma :
1.Benar-benar mengutamakan pelanggan
2.Manajemen yang berdasarkan data dan fakta
3.Fokus pada proses
4.Manajemen yang proaktif.
5.Kolaborasi tanpa batas
6.Selalu mengejar kesempurnaan
Konsep dasar Six Sigma banyak sekali diambil dari Total Quality Management (TQM) dan Statistical Process Control (SPC) dimana dua konsep besar ini diawali oleh pemikiran-pemikiran Shewhart, Juran, Deming, Crossby dan Ishikawa. Dari segi waktu, bisa dikatakan Six Sigma adalah hasil evolusi terakhir dari quality improvement yang berkembang sejak tahun 1940-an. Hal inilah yang sering menjadi cibiran para pakar statistik atau quality experts, karena menganggap Six Sigma hanyalah konsep usang yang diganti bungkusnya dan dijual lagi (kebetulan laku keras), serta banyak orang (dari manager sampai pegawai biasa) yang melihatnya sebagai trend sesaat, fad atau flavor of the month.
Banyak yang mengatakan bahwa Six Sigma adalah TQM yang lebih praktis, ada juga yang mengatakan SPC dikombinasikan dengan financial metrics; tapi apapun namanya entah itu Six Sigma, TQM, atau SPC, yang penting ternyata konsep ini jika dilaksanakan dengan disiplin dan konsisten bisa menghasilkan kemajuan yang cukup nyata.

Total Quality Manajemen
Total Quality Manajemen sering dikaitkan dengan perkembangan, penyebaran, dan pemeliharaan sistem organisasi yang dibutuhkan untuk berbagai proses bisnis. Hal ini didasarkan pada pendekatan strategis yang berfokus pada mempertahankan standart kualitas yang ada serta melakukan peningkatan kualitas tambahan. Hal ini juga dapat digambarkan sebagai inisiatif budaya, sebagai fokusnya adalah pada membangun budaya kolaborasi di antara berbagai departemen fungsional dalam suatu organisasi untuk meningkatkan kualitas secara menyeluruh.
Kelemahan TQM dibandingkan dengan Six Sigma adalah:
1.Kualitas sering merupakan aktivitas sampingan, terpisah dari isu kunci dari strategi usaha dan kinerja.
2.Pada banyak organisasi, kualitas dirasakan bersifat temporer dan apabila pemimpin yang memprakarsainya meninggalkan perusahaan, kualitas kemudian diabaikan.
3.Kebingungan terhadap TQM berasal dari kata kualitas itu sendiri.kata kualitas mempunyai banyak arti, tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Kualitas merupakan suatu departemen yang ada dengan tanggung jawab khusus untuk pengendalian kualitas, di mana disiplin tersebut cenderung lebih berfokus kepada proses stabilisasi daripada memperbaiki proses. Ide keseluruhan dari filosofi kualitas juga membuat konsep secara keseluruhan tampak misterius bagi kebanyakan orang. Pendekatan-pendekatan baru seperti ISO 9000 atau reengineering tidak terintegrasi ke dalam usaha kualitas yang ada.
4.Banyak perusahaan yang membuat kualitas lebih kabur atau tida jelas dengan menetapkan tujuan yang tampak positif tanpa memilki cara untuk memonitor kemajuan pencapaian tujuan tersebut.
5.TQM merupakan aktivitas yang bersifat hanya di dalam departemen-departemen di banyak perusahaan. Masing-masing departemen mempunyai kebijakannya secara sendiri-sendiri, sehingga tidak mencakup keseluruhan organisasi.
6.TQM mengajarkan incremental atau perkembangan yang sedikit (small improvement), bukan perkembangan secara radikal (radical improvement) sehingga banyak pemimpin korporat tidak sabar setelah munculnya konsep reengineering. Reengineering adalah desain atau desain ulang bisnis yang mirip dengan process redesign, meskipun prakteknya mencakup skala yang lebih besar.

Perbandingan untuk six sigma
Sebagai perbandingan, six sigma adalah lebih dari sekedar sebuah program proses perbaikan karena didasarkan pada konsep yang fokus pada peningkatan kualitas yang berkesinambungan untuk mencapai kesempurnaan dekat dengan membatasi jumlah cacat yang mungkin menjadi kurang. Hal ini melengkapi Statistical Proses Control ( SPC ) yang menggunakan metode stastitik untuk pemantauan dan pengendalian bisnis. Meskipun kedua SPC membantu TQM dalam dalam meningkatkan kualitas, mereka sering mencapai tahap setelah pada peningkatan kualitas lebih lanjut dapat dilakukan six sigma, di sisi lain, perbedaan karena fokus pada peningkatan kualitas proses mengambil ke tingkat berikutnya.
Perbedaan mendasar pada six sigma dan TQM adalah pendekatan. Sementara TQM melihat kualitas sebagai kesesuaian dengan persyaratan internal, six sigma berfokus pada peningkatan kualitas dengan mengurangi jumlah cacat. Hasil akhirnya mungkin sama dikedua konsep – konsep ( yaitu menghasilkan produk berkualitas yang lebih baik ). Six sigma membantu organisasi dalam mengurangi biaya operasional dengan fokus pada pengurangan cacat, pengurangan siklus waktu, dan penghematan biaya. Hal ini berbeda dengan biaya potong konvensional yaitu tindakan yang dapat mengurangi nilai dan kualitas. Ini berfokus pada identifikasi dan menghilangkan biaya yang timbul akibat limbah.
Inisiatif TQM berfokus pada peningkatan operasi individual dalam proses bisnis yang tidak berhubungan sedangkan program six sigma berfokus pada peingkatan semua operasi dalam proses bisnis tunggal. Proyek six sigma membutuhkan keterampilan profesional yang bersertifikat “ sabuk hitam “ sedangkan inisiatif TQM biasanya aktivitas paruh waktu yang dapat dikelola oleh manajer non dedicated.
Perbedaan Six Sigma dan Total Quality Management (TQM)
Thomas Pyzdek, seorang konsultan implementasi Six Sigma dan penyusun buku "The Six Sigma Handbook", pada bulan Februari 2001, menjelaskan adanya perbedaan penting antara Six Sigma dan TQM yaitu, TQM hanya memberikan petunjuk secara umum (sesuai dengan istilah manajemen yg digunakan dalam TQM). Petunjuk untuk TQM begitu umumnya sehingga hanya seorang pemimpin bisnis yg berbakat yg mampu menterjemahkan TQM dalam operasional sehari-hari. Secara singkat, TQM hanya memberikan petunjuk filosofis tentang menjaga dan meningkatkan kualitas, tetapi sukar untuk membuktikan keberhasilan pencapaian peningkatan kualitas.
Kemudian konsep Total Quality Control, di tahun 1950, menunjukkan bahwa kualitas produk bisa ditingkatkan dengan cara memperpanjang jangkauan standar kualitas ke arah hulu, yaitu di area engineering dan purchasing. Akan tetapi ada beberapa kelemahan yang muncul pada pelaksanaan Total Quality Control yaitu:
1.Terlalu fokus pada kualitas dan tidak memperhatikan isu bisnis yg kritikal lainnya
2.Implementasi Total Quality Control menciptakan pemahaman bahwa masalah kualitas adalah masalahnya departemen Quality Control, padahal masalah kualitas biasanya berasal dari ketidakmampuan departemen lain dalam perusahaan yg sama
3.Penekanan umumnya pada standar minimum kualitas produk, bukan pada bagaimana meningkatkan kinerja produk
Six Sigma dalam pelaksanaannya menunjukkan hal-hal menjadi solusi permasalahan di atas:
1.Menggunakan isu biaya, cycle time dan isu bisnis lainnya sebagai bagian yg harus diperbaiki
2.Six sigma tidak menggunakan ISO 9000 dan Malcolm Baldrige Criteria tetapi fokus pada penggunaan alat untuk mencapai hasil yg terukur
3.Six sigma memadukan semua tujuan organisasi dalam satu kesatuan. Kualitas hanyalah salah satu tujuan, dan tidak berdiri sendiri atau lepas dari tujuan bisnis lainnya
4.Six sigma menciptakan change agent yg bukan bekerja di Quality Department.
Aplikasi dimana six sigma lebih baik
Inisiatif six sigma didasarkan pada sebuah proyek direncakan yang mencantumkan skala proyek, sasaran keuangan, manfaat yang diharapkan dan tonggak. Sebagai perbandingan, organisasi yang telah menerapkan TQM, bekerja sepenuhnya tanpa mengetahui apa keuntungan untuk keuangan. Six sigma adalah berdasarkan DMAIC ( define measure analyze improve control )
1.Define: pada tahap ini team pelaksana mengidentifikasikan permasalahan, mendefiniskan spesifikasi pelanggan, dan menentukan tujuan (pengurangan cacat/biaya dan target waktu).
2.Measure: tahap untuk memvalidasi permasalahan, mengukur/menganalisi permasalahan dari data yang ada.
3.Analyze: menentukan faktor-faktor yang paling mempengaruhi proses (significant few opportunities), artinya mencari satu atau dua faktor yang kalau itu diperbaiki akan memperbaiki proses kita dramatis.
4.Improve: nah, di tahap ini kita mendiskusikan ide-ide untuk memperbaiki sistem kita berdasarkan hasil analisa terdahulu,melakukan percobaan untuk melihat hasilnya, jika bagus lalu dibuatkan prosedur bakunya (standard operating procedure-SOP).
5.Control: di tahap ini kita harus membuat rencana dan desain pengukuran agar hasil yang sudah bagus dari perbaikan tim kita bisa berkesinambungan.
Proses tersebut yang membantu dalam membuat pengukuran yang tepat, mengidentifikasi permasalahan yang tepat dan memberikan solusi yang dapat diukur.
Keunggulan konsep Six Sigma dibandingkan dengan TQM adalah:
1.Organisasi Six Sigma menjadikan pengelolaan proses, perbaikan, dan pengukuran ke dalam tindakan sebagai bagian dari tanggung jawab sehari-hari, terutama bagi manajer operasi. Dengan menggunakan sistem insentif, akan membantu memperkuat keyakinan bahwa Six Sigma merupakan bagian dari pekerjaan.
2.Sasaran yang ditentukan untuk dicapai dengan konsep Six Sigma lebih jelas. Sasaran dalam Six Sigma dinyatakan dalam hasil 99,997% sempurna, dengan tingkat kesalahan 3,4 per juta peluang.
3.Six Sigma merupakan suatu cara untuk menciptakan dan menjalankan suatu organisasi yang lebih berhasil. Six Sigma membutuhkan diversitas ketrampilan yang lebih besar, tidak hanya keahlian teknis.
4.Six Sigma mengakui baik perbaikan kecil ataupun perubahan besar, kedua-duanya merupakan bagian yang penting dari kelangsungan hidup dan keberhasilan bisnis.
5.Six Sigma tidak hanya berfungsi dalam proses jasa, tetapi juga menawarkan banyak peluang dalam manufakturing.
6.Perusahaan Six Sigma menetapkan standar persyaratan untuk pembelajaran, dengan dukungan investasi pada waktu dan uang untuk membantu karyawan memenuhi standar tersebut.
7.Six Sigma mencairkan rintangan organisasional. Disiplin dari pengelolaan proses adalah sangat penting dalam system Six Sigma sebagai cara untuk mengukur dan memperbaiki proses.
8.Six Sigma merupakan suatu sistem yang menyeluruh dan fleksibel untuk mencapai, mempertahankan, dan memaksimalkan keberhasilan perusahaan. Six Sigma secara unik digerakkan oleh pemahaman yang dekat dengan kebutuhan pelanggan, penggunaan yang disiplin atas fakta, data, analisis statistikal, dan perhatian yang tekun dalam mengelola dan memperbaiki proses usaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar